Status Bromo Awas, Wabup Imbau Warga Turun


Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengimbau masyarakat di sekitar kawasan Gunung Bromo untuk turun dan mengungsi sehubungan dengan perubahan status gunung itu dari siaga menjadi awas, petang tadi.

"Saya minta masyarakat Bromo untuk belajar dari Merapi. Karena itu jangan menyepelekan prosedur. Warga harus taat aturan," kata Wagub Saifullah Yusuf di Surabaya, Selasa (23/11) petang.

Saifullah menjelaskan, saat ini Pemerintah Provinsi Jatim tengah mewaspadai tiga aktivitas tiga gunung berapi, yakni Bromo, Semeru, dan Kelud. Adapun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim sudah menyiapkan dana on call (yang bisa dicairkan bila dibutuhkan) untuk ketiga gunung itu sebesar Rp 2,5 miliar dan dana cadangan Rp 50 miliar.

Peningkatan aktivitas Gunung Bromo yang dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Pos Pengamatan Gunung Bromo di Ngadisari, Cemorolawang, Probolinggo itu telah disebarkan ke pemerintah daerah di sekitar Gunung Bromo.

Kepala Kesbang Linmas Kabupaten Pasuruan M. Yahya mengaku sudah mendapat pemberitahuan peningkatan status Gunung Bromo tersebut lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Energi Provinsi Jawa Timur.

Berdasarkan data dari Pos Pengamatan Gunung Bromo di Ngadisari, Cemorolawang, Probolinggo, aktivitas gempa vulkanik meningkat sejak 8 November 2010. Kegiatan gempa vulkanik dalam dan gempa vulkanik dangkal secara fluktuatif terus meningkat. Sejak itu mulai tercatat adanya gempa tremor [baca: Aktivitas Gunung Bromo Meningkat].

Berdasarkan pengamatan data kegempaan dan visual serta analisis data tersebut, status kegiatan Gunung Bromo dinaikkan menjadi Awas (Level IV) sejak 23 November 2010 pukul 16.30 WIB. Sehubungan dengan status Bromo menjadi awas itu, M. Yahya meminta masyarakat di sekitar Bromo tenang dan tidak terpancing isu-isu tentang letusan Bromo.

Untuk mengurangi risiko bencana erupsi Bromo, masyarakat tidak diperbolehkan mendekati kawah aktif atau kawasan wisata Bromo harus ditutup dari segala aktivitas.

Gunung Bromo secara administratif terletak di Kabupaten Probolinggo, dan memiliki tinggi puncaknya 2.329 meter di atas permukaan laut. Kegiatan Bromo umumnya dicirikan oleh embusan asap kawah berwarna putih tipis sampai putih tebal, tekanan lemah dengan ketinggian berkisar antara 75-150 meter dari puncak, bau belerang tercium tajam.

Pengamatan kegempaan Bromo dipantau dengan menggunakan seismograf PS-2 secara telemetri semakin aktif, di mana pada 1-7 November hanya terjadi dua kali gempa vulkanik dangkal, lima kali gempa vulkanik dalam, lima kali gempa tektonik jauh.

Namun pada 15-21 November silam, 354 kali gempa vulkanik dangkal, 10 kali gempa vulkanik dalam, enam kali gempa tektonik jauh. Gempa tremor menerus dengan amplituda maksimum 1,5-3 mm.

Secara visual pada 1-7 November silam, visual ke arah puncak Bromo tertutup kabut pada saat cuaca cerah teramati embusan asap berwarna putih tipis-putih sedang, tekanan lemah, tinggi 75 meter di atas bibir kawah, condong ke arah utara. Tapi, pada 22-23 November lalu, teramati embusan asap berwarna putih sedang-putih tebal, tekanan kuat tinggi 250 meter di atas bibir kawah, condong ke arah utara.

Gunung Bromo selama abad 20 telah meletus sebanyak tiga kali dalam fase 30 tahun sekali. Letusan terbesar terjadi pada 1974 dan terakhir pada 8 Juni 2004, di mana terjadi letusan freatik dengan tinggi asap 3.000 meter dari bibir kawah. Ketika itu letusan menimbulkan korban jiwa, yakni dua orang meninggal dan lima orang luka-luka.(liputan6.com)


This entry was posted in ,,. Bookmark the permalink.



Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...